Galerizen1

Perayaan 71 Tahun Made Wianta ditandai Pameran ‘Remembering Made Wianta’

Galeri Zen1, Made Wianta

Dalam rangka memperingati hari jadi ke-71 Maestro Seni Rupa, Made Wianta, Komaneka at Keramas Beach menggelar pameran tunggal yang bertajuk ‘Remembering Made Wianta’. Pameran tersebut digelar tepat pada hari ulang tahun almarhum Made Wianta, Minggu (20/12). Karya-karya yang dipamerkan terrangkum dalam tiga periode bersejarah karier melukis Made Wianta.

Pameran dibuka langsung oleh Koman Wahyu Suteja, Pemilik Komaneka Group. Saat itu hadir pula Pande Wayan Suteja Neka, Founder Neka Art Museum, dan tidak luput Intan Kirana Wianta, yakni istri dari Made Wianta beserta kerabat lainnya.

Kepada awak media, Koman Wahyu Suteja yang akrab disapa Koman menjelaskan tentang tujuan daripada terselenggaranya pameran kali ini yang ternyata baru pertama kali diadakan khusus untuk Made Wianta.

“Jadi, Pak Wianta adalah satu-satunya pelukis yang umurnya senior tapi masuk dalam kategori konsep saya. Kenapa saya membuat pameran ini karena saya merasa sangat kehilangan. Ada satu tokoh yang bisa ada di lintas generasi dan bisa menjadi inspirasi semua perupa, bahwa umur tidak mengenal zaman,” papar Koman.

Ia juga mengungkapkan bahwa konsep yang ia usung di Galeri Komaneka sangat berbeda dari konsep yang diusung ayahnya, Pande Wayan Suteja Neka. Koman lebih cenderung mengorbitkan para perupa muda dengan karya-karya kontemporernya. Namun, untuk karya-karya Made Wianta, Koman mengaku tidak bisa mengabaikannya.

“Saya tidak bisa menahan godaan untuk memasukkan karya-karya Pak Wianta ke dalam galeri saya. Karya-karya seniman di galeri ini paling umurnya 24-30 tahun. Sementara, untuk Pak Wianta saya tutup mata karena lukisan-lukisan beilau masih relevan dengan konsep saya,” sambung pria penyuka arsitektur itu.

Sementara itu, Pande Wayan Suteja Neka kembali mengenang sepak terjang Made Wianta melalui sisa ingatannya. Ia juga sangat berdedikasi untuk menjadikan karya-karya Made Wianta sebagai sarana edukasi bagi para seniman muda.

“Orang Bali yang mengembara di Jogja yang kreatif saya lihat Pak Gunarsa dan Wianta. Mereka walau bagaimana tetap ada Bali di dalam karyanya. Wianta, satu-satunya seniman Bali yang bergerak dalam bentuk-bentuk kreativitas dan Museum Neka lengkap punya koleksi Wianta. Kita lestarikan sebagai sumber informasi, sumber inspirasi, sarana pendidikan, penelitian, sekaligus pelestarian budaya,” tandas Suteja Neka.

Ada tiga periode karya Made Wianta yang dipamerkan kali ini, yakni Periode Karangasem yang tertua di tahun 1978, Periode Kaligrafi, dan Geometrik yang terbaru di tahun 2015. Total keseluruhan karya yang dipamerkan ada 19 dari 42 koleksi karya Made Wianta oleh Galeri Komaneka. Selanjutnya, pameran ini akan berlangsung selama sebulan dengan pengunjung private.

I Made Wianta lahir pada 20 Desember 1949. Pendidikannya diawali di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Denpasar, berlanjut ke Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ‘ASRI’ – kini Institut Seni Indonesia atau (ISI) Yogyakarta. Selain mempelajari gaya lukisan Kamasan di Kamasan, Klungkung, Made Wianta juga memperdalam keterampilan melukisnya di Brussels, Belgia pada pertengahan 70-an. Made Wianta meninggal di usia 70 tahun pada 13 November 2020. (Z)

0 Comments